Seandainya Tuhan Punya Akun Sosmed

Assalamu Alaikum dan selamat malam sahabat netizen

Saya bakal mengajak Anda untuk sedikit membuka hati dan pikiran, sedikit lebih rasional, tentang suatu fenomena: yakni berdoa di akun sosial media. Yah tidak bisa dipungkiri, zaman sekarang gak pake smartphone gak gaul, gak hidup, pokoknya serba kurang lah. Benar-benar saat ini smartphone adalah salah satu barang wajib. Dan klo ngomongin smartphone si ponsel cerdas, pasti gak jauh-jauh dari akun sosmed. Bahkan anak kecil usia tujuh tahun aja udah punya iPhone dengan berbagai macam akun sosmed, entah itu untuk kepentingan pendidikan atau sekadar gaya-gayaan. Ane aja umur 22 cuma tahunya twitter ama Facebook doang.

Nah, bukan cuma sekadar berbagi info, sosmed sekarang malah dijadikan ajang untuk pamer isi hati, salah satunya adalah doa. Entah itu tujuannya benar untuk Tuhan, atau cuma mau nunjukin ke teman-temannya bahwa gue agamais, gue alim, atau apalah. Aneh aja, ane merasa moral kita merosot, daya berpikir kita menurun, tidak sepintar ponsel kita yang cerdas.

Lalu siapa yang harus disalahkan, masa smartphonenya? Orang yang menciptakan smartphone? Yah udah, silahkan baca sendiri tulisan dibawah, tulisan lama yang ane kutip dari blog tempo interaktif tapi sayang isinya udah terhapus. Jadi ane ambil dari sumber lain. Ok, mulailah membaca, bacalah pakai hati.

Seandainya Tuhan Punya Akun Sosmed

Di sosmed saya mencari Tuhan. Setelah memasukkan kata “Tuhan” di kolom pencarian, muncul sebuah akun. Tapi itu bukan milik-Nya (dengan N kapital), melainkan kepunyaan sebuah band dari Turki. Entah apa arti tuhan dalam bahasa Turki, karena di kamus online saya tak menemukannya.

Kalau pun ada Tuhan di sosmed, itu adalah akun dan fanpage yang dibuat oleh para penggemar Tuhan.

Saya gagal mencari Tuhan di dunia maya.

Mungkin Anda bertanya, kenapa saya iseng mencari Tuhan di jejaring sosial, meski semua orang waras tahu, pencarian itu akan gagal. Keisengan itu muncul karena saya tergelitik sejumlah status (FB, Yahoo! Messenger, BlackBerry Messenger, dan tweet) dalam bentuk doa.

Kenapa orang berdoa di dunia maya, jika Tuhan tak ada di media sosial?

Tergelitik, karena menurut guru agama saya dulu, permohonan kepada Tuhan harus disampaikan dalam hening. Doa adalah dialog pribadi antara kita dan Dia. Tapi, kini, kita melihat begitu banyak doa berseliweran di dunia maya dan bisa dibaca oleh jutaan orang. Mereka mungkin berharap, Tuhan akan membaca status atau tweet itu dan mengabulkannya.

“Kenapa tidak?” kata seorang teman yang kerap berdoa di sosmed. “Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti juga tahu apa yang kita sampaikan lewat media online.” Benar, tapi apa perlunya? Kenapa tidak disampaikan dengan khidmat dan khusuk? “Soal kekhusukan, itu tergantung niat,” kata teman lainnya. “Kalau kita menulis status itu dengan khusuk, apa salahnya?”

Tentu tak salah, tapi jawaban itu tidak memuaskan. Hanya berkelit dan terkesan defensif. Tak puas dengan jawaban-jawaban (yang sepertinya kurang jujur itu), saya memutuskan untuk menganalisis doa-doa tersebut. Dan hasilnya, tidak terlalu mengejutkan.

Sebagian besar doa itu berisi pengumuman. Misalnya, “Terima kasih Tuhan, Kau telah melancarkan urusanku ini.” Meski berbentuk doa, sebenarnya mereka hanya ingin mengatakan kepada dunia bahwa dia telah berhasil melakukan suatu pekerjaan. Dengan membuat status berbentuk doa, mereka mungkin berharap pengumuan itu tidak terdengar pamer keberhasilan.

Model itu sama dengan model keluh kesah, seperti “Ya Allah, hari ini terasa berat, ringankanlah bebanku.” Dengan doa seperti ini mereka sebenarnya ingin berbagi dengan orang lain. Yang mereka harapkan adalah komentar dari teman-teman: “Sabar ya bu/pak…”

Yang agak aneh sebenarnya adalah menjadikan Tuhan sebagai “sasaran antara” untuk menyentil orang lain. Misalnya, “Tuhan, sadarkanlah dirinya.” Penulis status ini jelas ingin agar orang yang dituju membaca doa itu dan terusik. Biasanya, komentar dari teman-teman mereka akan berbunyi: “Siapa sih dia?” Dan penulis status akan menjawab: “Ada deh…”

Tentu saja, pemilik akun itu sah-sah saja menulis status apa pun. Akun-akun dia, apa hak kita melarangnya? Tapi, saya kok masih percaya, Tuhan lebih mendengar doa yang disampaikan secara lirih dan dalam kesepian. Bukan di media sosial yang berisik.

Masa iya doa yang kita panjatkan harus rusak esensinya karena dipamer?

Sumber lainnya.

Top