Pulau Sanrobengi, Destinasi Musim Panas

Galesong, 16 September 2017

Belakangan suhu meningkat di Makassar, panas bray! Tidak diragukan lagi efek pemanasan global salah satu penyebabnya. Tapi justru keadaan seperti ini punya keindahan sendiri, punya tantangan buat mereka yang senang dengan wisata bahari. Dan destinasi kali ini tidak jauh dari hiruk pikuk kota, mudah dijangkau baik yang sudah ahli soal jalan-jalan maupun buat para pemula yang baru mau belajar tentang travelling. Adalah Pulau Sanrobengi, salah satu pulau yang masih (bisa dibilang) alami.

Tepi Pantai Pulau Sanrobengi

pulau sanrobengi

Terletak di desa Boddia, kecamatan Galesong selatan, kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Total waktu yang dibutuhkan untuk ke sana dari pusat kota Makassar adalah satu jam, dengan jarak tempuh sekitar 30 km, 29 km ke pelabuhan Galesong, 1 km menyeberang ke pulau Sanrobengi. Kebanyakan nelayan yang tinggal di sekitar wilayah pantai dengan senang hati menawarkan boat-nya untuk Anda tumpangi ke tujuan. Dengan biaya akomodasi perorang Rp. 20.000,-, semakin banyak yang ikut semakin bagus, mungkin bisa lebih murah. Sampai di tujuan Anda harus membayar Rp. 2.000,- untuk biaya tiket.

Dermaga Pulau Sanrobengi

pulau sanrobengi

Suhu di pulau ini tidak terlalu panas, malah bisa dibilang sejuk karena terpaan angin dan juga airnya yang jernih, meskipun tidak memiliki kekayaan bawah laut seperti terumbu karang. Cocok buat mereka yang hobi fotografi, pengejar sunset dan sunrise, pengejar milky way, dsb. Ada beberapa mitos yang berkembang di masyarakat. Misalnya, selama perjalanan ke Sanrobengi dilarang meludah di laut, karena itu adalah salah satu pamali bagi orang-orang tua dulu. Dulu juga katanya ada gurita besar di dekat pulau sering menenggelamkan kapal nelayan atau orang-orang yang takabbur. Setiap pamali seperti ini sebenarnya berlaku untuk semua tempat, jadi Anda wajib jaga sikap, di manapun berada.

Pemerintah setempat sudah mulai memberi perhatian terhadap objek wisata ini, dengan mengadakan festival Sanrobengi yang berlangsung bulan mei lalu. Dalam festival itu banyak tradisi khas Sulawesi yang ditampilkan dan juga budaya khas masyarakat bahari.

- Ahmed Sholeh

Top