Penjara Jiwa Untuk Seteguk Nikmat?

Ingatlah ketika kita bersama, dimana kita masih satu dalam merajut asa. Mereka yang akan jadi penguasa, dan mereka yang dibutuhkan tenaga dan suaranya, bersatu dalam keakraban dan tanpa terasa, hal itu mulai sirna. Dikarenakan yang diatas sudah mulai semena-mena, seolah membuat yang dibawah merasa terlena, dan akhirnya menelantarkanmu dalam penjara jiwa...

Selfishly

Bukan hanya saya yang menggerutu tentang celaan. Mungkin saja tuanku marah karena makian. Para hamba bisa saja muak dengan hinaan. Dan mereka yang santun juga gerah dengan permainan.

Kuasa telah buta. Nurani lepas ditelan murka yang sirna. Mereka yang beradu itu seperti penjara jiwa. Menebar asa, mengubur suka. Bukan kali ini saja, mereka terus menerkam dengan dusta.

Bosan sekali menyimak perang mulut yang kusut. Mereka seperti ahli memberi nasehat secepat kilat. Analisanya penuh sekat, mereka menjadi barisan heroik yang menjilat. Mencoba membagi maklumat, justru membuat kita tersesat.

Mereka-mereka itu adalah serumpun yang mengadu nasib pada sang pencerah. Katanya tanpa pamrih, dibaliknya mereka mengharap tuah. Pantas saja kita ini semakin jatuh, mereka penuh gairah membuat kita lumpuh. Setelahnya, kita berpesta dalam tetesan merah darah.

.HikStarway.

Anggap saja dialog pada gambar diatas adalah tentang perdebatan kusir antara mereka yang kuasa dan mereka yang binasa. Hari ini semua rela menjadi buas demi seteguk nikmat. Dan ketika kesadaran menghampiri jiwa mereka yang tertindas, barulah mereka berjuang untuk menang.

Berusaha mengejar kedamaian yang melemahkan semangat juang, dan tak lagi peka pada tiap keagungannya yang seluas ruang, hingga masa yang menghujat untuk dikenang, dan seolah terbuang, pada zona nyaman dan hinanya kuasa dan uang.

- Ahmed Sholeh

Top