Aktifkan Javascript!!!

Uniknya Perayaan Maudu Lompoa Cikoang di Takalar - Ahmed

Ahmed

Writer, Traveller, and Videographer

Uniknya Perayaan Maudu Lompoa Cikoang di Takalar

Diterbitkan tanggal

Takalar, 6 Desember 2018

Maudu Lompoa Cikoang

Adalah perayaan tahunan yang dilaksanakan di desa Cikoang, Takalar, Sulawesi Selatan. Acara adat ini biasanya diadakan selama seminggu, untuk kali ini, acara puncaknya jatuh pada hari kamis, 6 Desember 2018, atau 28 Rabiul Awal 1440 H. Istilah Maudu Lompoa sebenarnya adalah maulid nabi. Hanya saja ketika menyebutnya Maudu Lompoa, maka sudah tertanam dalam benak bahwa Cikoang yang merayakan acara ini. Maulid atau Maudu adalah salah satu sarana masuknya agama Islam di suatu daerah. Dan biasanya dicetuskan atau dibawa oleh seorang alim ulama, dan untuk Cikoang, pertama kali dicetuskan oleh seorang ulama asal Aceh, Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, pada awal abad ke-16.

Selamat Datang di Cikoang, Takalar
 
Lihat postingan ini di Instagram
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Lontara Entertainment (@lontaraentertainment) pada

Maudu Lompoa pertama kali dilaksanakan pada tahun 1620 M, atau 8 Rabiul Awal. Dan kali ini adalah Maudu Lompoa yang ke-398. Apa yang unik dari perayaan seperti ini adalah kebudayaan tiap-tiap daerah. Kalau Poralle biasanya identik dengan kuda menari atau "pattuddu" dan dilaksanakan menggunakan panggung di atas bukit Salabose, nah kalau di Cikoang menggunakan replika kapal kayu karena Cikoang adalah wilayah pesisir. Dan di mana-mana maulid selalu identik dengan asesoris berupa makanan khas, yaitu songkolok dan telur. Adapun asesoris tambahan berupa kain-kain yang dominan warna merah cerah, disusun sedemikian rupa kemudian diletakkan di atas kapal.

Maudu Lompoa Cikoang

Replika kapal

Replika kapal yang digunakan di Maudu Lompoa ini diumpakan sebagai ahlulbait atau ajaran Rasulullah yang menuntun kita hingga hari ini. Simbol-simbol lain seperti songkolok diibaratkan sebagai nur Muhammad, dan telur-telur warna merah putih diibaratkan sebagai ruh atau jiwa-jiwa umat yang mengikutinya sejak awal penciptaan semesta. Kain-kain berwarna cerah diibaratkan sebagai bendera al-mu'minin di padang mahsyar sebagaimana ajaran dari Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dalam kitab Bayanul Bayan (penjelasan atas penjelasan). Itu sebabnya, dikatakan bahwa maulid adalah salah satu perayaan yang unik karena penuh dengan simbol-simbol dan berbagai macam makna dalam pelaksanaannya.

Kegiatan maulid atau Maudu, adalah kegiatan yang membawa berkah bagi sebagian orang. Karena dalam acara inilah di mana para pedagang kecil bisa menjajakan jualannya. Di sisi lain, masyarakat sekitar punya semacam wadah untuk berkarya, berkumpul, dan bersilaturrahmi. Tentu saja melihat dari sisi ekonomi, pemerintah setempat pun pasti punya keinginan untuk ikut andil dalam menjaga dan mengembangkan budaya ini. Namun dari semua keuntungan itu kita sampai pada tujuan utama yaitu berkegiatan maulid sebagai manifestasi kecintaan kita kepada Rasulullah dan ajarannya. Dan juga untuk menghormati ulama besar Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, yang telah membawa Islam ke Sulawesi Selatan dan menjadi agama yang rahmatan lil alamin.

- Ahmed Sholeh

comments

Comments