Jejak Islam di Bumi Mandar

Majene, 7 Juli 2016

Ekspedisi: Jejak Islam di Bumi Mandar

Ada satu bukit di arah barat kota Majene, yang sepertinya ikonik banget. Dan itu menggugah rasa penasaran saya. Bukit ini termasuk dalam wilayah kelurahan Pangali-ali kabupaten majene. Saya katakan ikonik, karena sebagian besar kegiatan penting berlangsung di sini, maulid nabi Muhammad misalnya. Dan ikonik karena selain pemandangannya yang spektakuler, ternyata di sini itu merupakan pusat pemerintahan kerajaan Banggae Mandar di masa lampau, bukit Salabose namanya. Kerajaan Banggae itu yang memerintah seluruh wilayah Mandar, seperti Mamuju, Polewali, Mamasa, dan Majene, atau biasa disebut orderafdelling.

Di bukit ini juga ada satu bangunan kuno yg merupakan bukti perjuangan masa lampau, yaitu mesjid kuno Salabose. Percaya gak, mesjid ini umurnya udah 6 abad loh! Cuma pernah direnovasi beberapa kali karena udah tua, itu menurut keterangan dari imam di sini. Nah, klo kita membahas salabose, tidak bakal jauh dari nama-nama penting seperti I Moro Daetta di Masigi, I Puang Banggae, dan masih banyak lagi. Jadi bisa dikatakan, perjalanan kita kali ini adalah berwisata sambil belajar sejarah.

Mesjid Kuno Salabose Dulu

jejak islam di bumi mandar

Mesjid Kuno Salabose Sekarang

jejak islam di bumi mandar

Salabose ini adalah wilayah terkuat dimasanya, makanya dipercaya untuk memimpin seluruh wilayah mandar. Dan meskipun modernisasi berlangsung pesat, keagungan tempat ini tetap terjaga, tidak banyak berubah, akses jalan pun lancar jaya. Tidak butuh banyak biaya untuk ke sini, cuma pastikan aja kendaraan Anda dalam kondisi prima, soalnya jalanannya terjal cuy!

Bicara tentang perkembangan Islam di Mandar di masa lampau, tidak terlepas dari nama seseorang, yaitu Syekh Abdul Mannan. Ada dua versi kedatangan Abdul Mannan di bukit Salabose: 1. Syekh AM mencari wilayah terkuat di Mandar untuk menyebar Islam, kemudian ia bertemu dengan Tomakaka atau orang yang dituakan. Si Tomakaka menantang Syekh AM dengan menyuruhnya mencabut keris pusaka dari Tomakaka. Jika Syekh mampu mencabut maka Tomakaka dan seluruh rakyatnya akan masuk Islam. Ternyata Syekh mampu, maka berdirilah Islam dengan cara damai sejak saat itu. Versi ke 2: Syekh Abdul Mannan adalah anak kedua dari Raja Banggae, dikirim ke Mekkah untuk belajar Islam, kemudian pulang dan bersatu dengan raja ketiga, I Moro Daetta Di Masigi, untuk memperkokoh kerajaan Banggae. Tentu saja versi pertama yang paling kuat, hal ini berdasarkan keterangan dari narasumber dan juga barang-barang peninggalan Syekh Abdul Mannan. Salah dua peninggalan Syekh AM yang paling otentik selain mesjid kuno adalah Passauwang Tallu atau Sumur Tiga (Buyung Tallue; Bugis).

Sumur Tiga

jejak islam di bumi mandar

WISATA ROHANI DI MAKAM ONDONGAN MAJENE

Belajar sejarah sambil ziarah sambil menikmati pemandangan alam. Pernah gak sih mikir untuk menggabungkan ketiganya? Nah di sinilah lokasinya, makam ondongan. Terletak di lingkungan Cilallang, lebih tepatnya di belakang kantor Bupati Majene. Tentu saja ini masih berhubungan erat dengan wisata kita sebelumnya di bukit salabose. Kebanyakan raja yang memerintah kala itu dikebumikan di makam ini. Nama lain situs ini adalah kompleks makam raja-raja dan hadat banggae.

Kompleks Makam Raja Banggae

jejak islam di bumi mandar

Kumpulan batu pada makam ini menjadi nilai tambah tersendiri. Ukiran-ukiran indah pada nisan dan pembatas, seakan menampilkan sisi seni dan keagungan orang-orang di masa lampau. Menakjubkannya lagi, kondisi makam masih bertahan sampai saat ini, padahal klo dipikir-pikir usianya udah berabad-abad loh! Bentuk nisan di sini ternyata punya makna. Misalnya nisan tipis menandakan bahwa yg dimakamkan adalah perempuan, klo bentuk nisannya bulat berarti laki-laki. Ada juga bentuk mahkota diujung nisan menandakan bahwa ia pernah memegang jabatan penting, dan bentuk pegangan keris, menandakan bahwa ia pernah memegang peranan penting dalam peperangan di masa lampau.

Dan yang membuatnya cocok dikatakan lokasi wisata adalah karena letaknya yang berseberangan dengan teluk mandar, hanya dibatasi pagar dan jurang. Belum lagi kondisi makam dan rumput hijau yang betul-betul terawat. Di dalam kompleks makam ini ada museum juga loh, di mana disimpan keterangan-keterangan tentang makam dan beberapa peninggalan penting dari perjuangan raja-raja Banggae di masa lampau. Eksotis, ekstrim, spektakuler, kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan tempat ini.

Teluk Mandar

jejak islam di bumi mandar

Mantep toh?!
Top