Hikayat Sang Pemberani Balocci, Tompobulu Pangkep

Ekspedisi: 009. Lintas Bulusaraung

Hai guys, sahabat traveller yang saya cintai. Maaf keterlambatan pembuatan dokumentasi, admin juga butuh hidup coy, jadi kita perlu mengejar kesibukan juga hehe... Btw, perjalanan selanjutnya yang ingin saya ungkap adalah hikayat hidup to barania Balocci dan hal-hal unik yang menyertainya. Dan tentu saja, perjalanan ini tidak akan menarik tanpa mengungkap juga keindahan alam yang tersaji didepan mata, yaitu pegunungan Bulusaraung.

I'm the king of the world

Hikayat Sang Pemberani Balocci, Tompobulu Pangkep

First thing first, gimana cara ke wilayah Balocci? Dari Makassar, kita menempuh jarak 70 km untuk sampai ke desa terakhir, yaitu desa Tompobulu. Jalanannya aman-aman saja, tetapi ketika memasuki wilayah Balocci, jalanannya mulai terjal, dan memasuki desa Tompobulu, jalannya banyak yang masih belum beraspal, terutama saat musim hujan perlu ekstra hati-hati di sini. Desa ini memang awalnya terasing karena jalanannya masih sulit dijangkau, harus naik kuda kata orang-orang dulu. Naik motor aja kita kewalahan dan kehabisan waktu, butuh dua jam loh untuk sampai di desa ini, apalagi pakai kuda.

Mengenai wilayah Balocci, ada tiga versi pemberian namanya. Versi pertama: Balocci diambil dari nama seseorang, yaitu karaeng Balocci. Versi kedua: Dulu orang Balocci hobi minum ballo (arak), karena di Tompubulu paling banyak dihasilkan gula aren, sehingga Balocci diambil sebagai nama kecamatan, ini menurut penuturan Andi Muin Dg. Mangati sebagai tokoh masyarakat Balocci. Versi ketiga: menurut penuturan Ambo Masse Dg. Malewa, awalnya ada seorang Belanda namanya Tuan Petro, bertanya tentang kebudayaan apa yang ada di Balleanging, kepala distrik saat itu membuat semacam kerajinan tangan, keranjang, yang diletakkan di sisi kuda untuk mengangkut gula aren, sebagai komoditi utama wilayah Balocci. Gula aren itu dibawa untuk dijual di kota, terkenallah kerajinan tangan itu sebagai kebudayaan wilayah Balleanging yang diberi nama Balocci sehingga kecamatan tersebut dinamakan Balocci.

Kita mengulas pernyataan Andi Muin dulu. Pada masa itu berkembang cerita, semacam sumpah, bahwa jika sudah tidak ada “Koro – korona Balocci” di Balocci maka ada tiga hewan yang juga tidak boleh berbunyi di Balocci. Tiga hewan itu ialah tokke’, jala’ dan bukkuru’. Sampai sekarang ketiga hewan ini tidak pernah terdengar di daerah Balocci, malahan menurut penduduk setempat jika mereka ke daerah (kecamatan) lain kemudian mendengar suara tokke’, maka suara tokke’ tersebut seketika akan berhenti jika dikatakan, “nia tau Balocci anrinni”. (Makassar : Ada orang Balocci disini) atau “engka’ to-Balocci koe” (Bugis : Ada orang Balocci disini). (Makkulau, 2008). Secara umum, to barania maksudnya orang pemberani, pahlawan, yang pada zaman dahulu berjasa dalam peperangan melawan kejahatan, melawan penjajah. Andi Muin juga menjelaskan, dikatakan to barania ketika seseorang melakoni tiga hal: mabuk, sabung ayam, berjudi.

Tompobulu dulu hanyalah padang luas, dengan nama Bulu Bulu atau sekumpulan gunung. Ambo Masse Dg. Malewa, sebagai kepala desa pertama, mengesahkan desa Tompobulu pada jumat, 4 april 1964. Beliau asli org sini tapi sempat hijrah karena di sini adalah daerah konflik. Beliau membangun desa ini dengan berasaskan Islam, bisa dilihat dari beberapa aturan unik: misalnya ritual pernikahan dilaksanakan sederhana, selalu mengambil waktu di hari jumat. Oleh sebab itu, jumat dikatakan sebagai hari libur Tompobulu. Selain itu syarat pernikahan, harus menanam pohon untuk kelestarian lingkungan. Menurut Ambo Masse lagi: rumor tentang to barania Balocci yang punya kebiasaan minum ballo itu sebenarnya cerita yang sudah dimanipulasi. Maksudnya cerita hanya untuk mengangkat harkat dan martabat, gaya-gayaan lah, hanya supaya disegani wilayah lain. Acara nikah hari jumat itu sebenarnya hanya rencana, gimana caranya mesjid di tompobulu bisa diramaikan oleh penduduk. Dari beberapa keunikan ini, maka terkenallah desa Tompobulu sebagai desa yang relijius. Unik guys! Which story do you prefer?

Here comes the best part, yaitu berkelana di pegunungan Bulusaraung. Perjalanan panjang ini memakan waktu kurang lebih tiga jam, melalui 9 pos. Ada beberapa tanda jalan dan tempat berlindung di beberapa pos. Tapi cuma 3 pos yang memiliki sumber air, pos 2, pos 5, dan pos 9, makanya saya menyarankan, bawalah banyak persediaan air sebelum ke wilayah ini. Biasanya pendaki memilih pos 5 dan pos 9 untuk tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan, karena wilayah ini cukup datar dan bagus untuk berkemah. Untuk seorang pemula, saya pikir pegunungan ini cukup bagus ditelusuri untuk belajar mengenal alam.

Kami tidak bisa berlama-lama di puncak, karena kabut menyelimuti wilayah ini pada pukul 10 pagi, dan itu dapat menganggu perjalanan pulang kami. Itu sebabnya, kami sempatkan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi dan sebagai kenang-kenangan. Saya, Herman, dan Indah, tiga orang nekat berjalan malam untuk menelusuri keindahan ini, merasa sangat puas dan berterima kasih pada-Nya. Kami berhasil menaklukkan surga dengan ketinggian 1353 mdpl ini.

Puncak Dunia

Puncak Bulusaraung

- Ahmed Sholeh

Top