Ahmed

Digital Nomad

Gunung Lawu, dan Legenda Brawijaya V

Diterbitkan tanggal

Gunung Lawu. Wajib bagi seorang pria untuk memperjuangkan sesuatu yang berharga baginya hingga titik darah penghabisan. Meskipun harus mengorbankan banyak hal: kehormatan, harga diri, keluarga, bahkan nyawa. Tapi ada kalanya waktu menuntun kita untuk mengakhiri semua dan menyerah pada ketetapan-Nya. Mungkin itu yang ada dipikiran seorang Brawijaya V ketika melihat kerajaannya diambang kehancuran. Menurut Pak Kelik, seorang penjaga petilasan yang saya wawancarai, seorang raja yang mendaki gunung Lawu karena mendapat wangsit selama ia menyepi, juga tempat berakhirnya kehidupan sang maharaja. Tapi sebelum kepergiannya, beliau mewariskan tempat ini untuk mereka yang hendak berkomunikasi dengan yang maha kuasa. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Hargo Dalem. Untuk mencapai tempat itu, kami melakukan pendakian ke gunung Lawu via candi Ceto.

Gerbang pendakian via candi Ceto

Gunung Lawu mendapat predikat sebagai salah satu gunung tertua di Jawa. Letak basecamp Ceto ini di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Memasuki dusun Ceto, Anda akan merasakan suasana mirip di Bali, terlebih karena tampilan candi Ceto dan arsitektur bangunan di sini yang menyerupai bangunan-bangunan di Bali. Di sini ada banyak base camp, silahkan pilih salah satunya dan lakukan resgistrasi, tapi tiket masuk area dibayar di pos pendakian. Kegiatan pendakian kami dimulai pada pagi hari yang sejuk, dengan kondisi hutan lembab karena hujan semalam. Trek pendakian lumayan curam dan menantang, terutama trek menuju ke pos 4, seperti yang Anda lihat pada video dibawah. Untuk itu pastikan asupan gizi Anda tercukupi, setidaknya hingga masuk ke area perkemahan di Gupak Menjangan. Ada beberapa area yang disarankan untuk berkemah, seperti Cemoro Dowo atau pos 3, dan pos 5 dengan area yang luas.

Petilasan Brawijaya V ada di Hargo Dalem seperti yang sudah dijelaskan video dibawah. Tapi isinya berupa prasasti kerajaan Surakarta sebagai pemerintahan yang berlaku di wilayah ini. Konon Brawijaya V naik ke Lawu karena kerajaan Majapahit sudah berada diambang kekalahan akibat peperangan dengan kerajaan Demak. Sebagian besar orang-orang di kerajaan Majapahit menyebar ke berbagai daerah di nusantara. Dari cerita pak Kelik, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini adalah keturunan dari orang-orang Majapahit.

simbol Raja Surakarta

Salah satu prasasti kerajaan Surakarta

Gunung Lawu ini sebenarnya punya banyak puncak, salah satunya adalah Hargo Dalem dan Hargo Dumilah. Dan semua puncak itu ditujukan sebagai petilasan, ritualan, dan bukan tempat wisata. Cuma karena gunung Lawu ini dibuka untuk umum, makanya jadilah tempat yang asik buat mereka yang hobi mendaki dan menikmati keindahan alam. Dan setiap pendakian atau kunjungan ke wilayah ini, kita selalu dibekali dengan nasihat-nasihat untuk menjaga sikap dan perilaku. Buat saya pribadi, gunung Lawu ini adalah tempat yang asik untuk menyendiri seperti yang dilakukan oleh raja-raja terdahulu. Mungkin untuk mendapatkan wahyu, petunjuk, atau sekadar ingin menikmati kesendirian.

- Ahmed Sholeh

Video Dokumentasi

Music by

Kontekst - Buddha

Comments