Dilema Mahasiswa Pekerja part 2

Dilema antara kerja dan kebebasan

Hai sobat, di dunia nyata maupun maya. Salut buat kalian yang tidak ikut-ikutan terbawa arus euforia, tidak ikut meramaikan kasih sayang semu sehari saja. Tidak ikut-ikutan merealisasikan rasa yang sebenarnya abstrak. Unggah foto sana sini bareng Ibu, tulis status "luv u mom" diberanda, bikin sesak nafas bagi yang membacanya, sampai gelak tawa mereka yang sudah tidak punya orang tua. Yah syukur deh ortu kalian masih lengkap. Kelewat senang dengan jumlah "like" yang melanglang buana, dari foto yang harganya gak seberapa, tapi lupa dengan nilai cinta yang sebenarnya. Lupa dengan sosok satunya, pria terkuat di dunia, yang selalu menopang hidup tanpa putus asa, yakni seorang Ayah. Cukup sehari saja Anda latah, lalu esoknya kembali menuai dosa dan salah. Ditanggal 22 desember kemarin mungkin hari yang penuh kesempatan emas. Dengan kebanggaan dan kehormatan diatas kertas (baca: ijazah). Sujud syukur tanda akhir dari kerja keras, air mata haru serta pikiranku yang bebas lepas. Inilah bukti nyata yang jelas, bentuk cintaku yang berkelas, kepada ortuku yang selalu berjuang diambang batas. Sebab senyum bahagia mereka, terukir berlandaskan ikhlas. Selamat buat kalian yang berjuang menjadikan desember ini penuh suka cita.

Masa-masa indah itu, ketika berkutat dengan laporan dan organisasi. Dan kalau diingat-ingat kembali, senang susahnya, gagal dan berhasil. Kita semua pernah berada pada tempat yang sama, dan kemudian meninggalkan cerita, pergi menjauh mengais karunia-Nya. Pernah kuukir satu nama, diantara dinding dan deretan kepala, diantara individualis dan sekumpulan jiwa merana, yang sulit membedakan antara ilusi dan logika. Karena kepala gundul mereka, sedang dipaksa untuk menerima hal-hal yang masih jauh dari nalar dan taqwa.

Pernah kukecup satu rasa, dari cinta dan asmara. Cinta akan tanggung jawab dan perjuangan bersama. Melukiskan kisah asmara antara jiwa-jiwa hampa dan keinginan untuk dianggap bermakna. Seolah mengingatkanku kembali tentang diriku yang tidak jelas. Dengan rasa yang sama seperti jiwa mereka, namun terjebak diantara malu dan masa lampau. Ketika idealisme dengan keras menderu, namun tenggelam bersama waktu. Dengan kata lain, kerja keras dan usahaku tidak pernah dianggap ada. Benar-benar hampa dan tak bermakna.

Kadang aku berpikir untuk membuangnya begitu saja. Apakah masih ada tempatku di dunia? Dimana jiwaku yang berbeda ini bisa berguna. Kampus bagiku seperti neraka, dengan dinding kokoh dan gelap gulita, dan pagar besi yang terlihat seperti jeruji penjara. Bukan di sini seharusnya aku berada, tapi dalam untaian kasih dan rahmat-Nya.

Sudahkah kuukir satu nama dari tiap rasa yang kujamah? Dari makna kebebasan dan sumpah serapah? Dari baik dan buruk yang sulit terpisah? Atau dari aib dan risalah manusia sampah? Semua kuterjang tanpa lelah, mencari celah untuk lepas dari amarah. Saat kuliah, dunia kerja kujalani dengan mudah. Terlihat gemilang dan mewah. Namun kini, ku berusaha berkilah, apakah kebebasan seperti ini yang kuinginkan? Masih terkekang dengan aturan, yang memainkanku sebagai peran yang jauh ingkar terhadap perasaan? Entahlah, kurasa Tuhan paling tahu apa yang kubutuhkan, lebih dari semua ingin yang sempat tercita-citakan.

dilema mahasiswa pekerja

Pernah kuukir satu nama, diantara dinding dan wajah kelam durjana. Sebagai bentuk fisik perlawanan dan murka. Atas pergolakan yang tertunda. Seperti apakah kebebasan yang sesungguhnya? Sudahkah kucicipi dalam duka? Dalam canda, dan dalam rencana yang masih meringkuk berselimut asa. Kuserahkan pada kematian saja, mungkin "di bawah sana", di ruang sempit dan hampa barulah mengerti arti sebenarnya. Dilema antara kerja dan kebebasan, membuat kita lalai dari mengingat-Nya.

- Ahmed Sholeh

Top