Catatan Mahasiswa Teledor part 3: Evolusi Pendidikan

Terkadang, suatu perubahan membutuhkan pengorbanan. Evolusi merenggut apapun yang perlu dalam setiap pergolakan, kerakusannya dalam menelan dogma yang semakin usang dan menua.

Evolusi Pendidikan

Mendengar kata pendidikan, yang kupikirkan hanya sekumpulan draft, berisi aturan-aturan yang kadang diluar nalar. Secara pribadi, aturan-aturan itu ada yang membangun, tapi kebanyakan membuatku semakin tumpul, membuatku pusing dan bingung, membedakan mana fitrah dan mana insting hewani para pemerkosa kebebasan.

Dan karena cuma draft, makanya tidak pernah tuntas, tidak pernah ada versi finalnya, tak pernah dijadikan acuan jelas, bisa diubah-ubah kapan saja, isinya sesuai kemauan pemegang kuasa. Baik buruknya tertera jelas, sejelas mata memandang prakarsa Tuhan dari murni keihlasan hamba-Nya ataukah keruhnya harapan yang diperbudak kesenangan sesaat.

Salam sayangku untuk para pejuang yang membuat wajah pendidikan di masa lalu begitu indah dan dikagumi citranya dimasa keemasannya.

Salam jari tengah buat kalian yang saat ini tergabung dalam daftar manusia-manusia kolot yang membuat wajah pendidikan begitu aneh dan menyesakkan.

Pendidikan zaman sekarang ialah, ketika kau diberi tugas secara sepihak tanpa paham tujuan sebenarnya. Ketika tugas itu selesai kemudian dipindai lembar demi lembar untuk mencari letak salahnya, lalu dibebankan hukumannya kepada Anda. Kenapa pelaksana pendidikan membuat wajah pendidikan sesuram ini? Hanya sedikit senyuman mesra yang kudapat dari mahalnya biaya yang begitu mencekik ini. Kebanyakan hanya wajah sangar dan kertas penuh coret tanda tangan yang siap menghakimi. Seolah-olah pendidikan hanya bermuatan kekerasan semata.

Ya Tuhan, hamba memang pemalas. Hamba akui.

Tapi tidakkah mereka paham, tekanan kadang memaksa untuk memikirkan suatu kemajuan. Diawali pemberontakan oleh kehausan mereka akan ilmu yang sebenarnya dan sesederhana kebebasan yang apa adanya. Tanpa syarat, tetap merupakan beban, hanya saja dibubuhi transparansi yang rasional. Membuat semuanya merasa diuntungkan.

Jikalau sekiranya kalian ingin belajar, kenapa tidak menyelesaikan masalah sepele, masalah kita bersama? Yakni kesalahan kita dalam memahami apa itu belajar sesungguhnya.

- Ahmed Sholeh

Top